Minggu, 25 April 2010

Aku Berhenti !!

ini bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.



ini juga bukan tentang rasa amarah dan ingin membenci.



bahkan ini bukan tentang rasa malu dan dipermalukan.



tapi ini jauh lebih berarti,



ini tentang rasa kecewa,
kecewa yang mendalam,
saat dmana engkau telah berhasil merusak arti sebuah kepercayaan.




aku berhenti !
aku berhenti !
aku berhenti mempercayaimu, lagi !

Selasa, 13 April 2010

alasan kenapa sekarang aku tidak suka hujan

*
hari itu hari jumat,
sore itu langit memang sedang mendung,
entah kenapa aku ingin sekali cepat-cepat pulang,
melewati jalan yang tidak biasa aku tempuh.

lalu hujan turun,
"hujan-hujanan saja" pikirku, toh aku suka hujan.
aku gembira bisa berhujan-hujanan,
walaupun aku tau, besok penyakit sinusitis ku akan kambuh karena kesenangan yang sesaat ini.

ternyata tuhan tidak membiarkan kesenangan itu terlalu lama,
ban motorku bocor,
yaa ditengah derasnya hujan aku terpaksa berjalan dan mencari pertolongan.

disaat seperti itu, aku mengadu padanya,
tidak terlalu jelas alasan kenapa aku mengadu padanya,
entah karena ingin benar-benar ditolong olehnya atau hanya sekedar ingin bermanja-manja dan dihibur saja.
tapi ternyata, dia tidak khawatir sama sekali, dia tidak perduli apakah bajuku sudah sebasah apa, dia juga tidak mengutuk paku yang telah mengoyak ban motorku,
dia hanya tertawa, lalu tertawa lagi, dan lagi.

"tak apalah" pikirku, toh langit ikut bersdih akan nasibku,
aku suka hujan!
setelah menemukan tambal ban lalu aku bergegas pulang dan
berharap cerita ketidak beruntungan ku cukup sampai disitu saja.

ternyata tuhan ingin aku membantu 2 orang penambal ban sekaligus.
saat hampir sampai ke rumahku, ban itu bocor lagi,
"tak apalah, sudah dekat kok" pikirku, toh masih hujan dan aku suka hujan!


**
hari itu hari sabtu,
masih pagi, dan masih hujan, padahal aku ada kuliah pagi.
"tak apalah, sebentar lagi pasti berhenti" pikirku, toh aku suka hujan!

aku masih menunggu hujan reda,
saat dia (orang yang aku fikir akan menjadi pendamping hidupku kelak) tiba-tiba berkata,
"aku lelah, ternyata menaklukan jarak tidak semudah yang aku bayangkan, keyakinanku untuk bisa menaklukan jarak yang memisahkan kita telah pudar dan berangsur menghilang, maaf, maaf karena telah membuatmu terlalu percaya padaku, aku lelah"

*jeder
petir menyambar,
duniaku serasa runtuh,
tapi entah kenapa hujan tiba-tiba berhenti,
dan mentari menggantikan posisi awan dan menerangi dunia-dunia di sekelilingku,
seakan-akan langit tidak ingin ikut menangis dan bersedih sepertiku.
"tak apalah" pikirku, toh aku sudah tidak menyukai hujan lagi!

Minggu, 11 April 2010

mengutip pemikirannya "raditya dika" :))

I hate that i like this


Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta.
Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.